Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

WASPADA BAHAYA DIABETES!!!

>
WASPADAI GULA DARAH YANG SELALU TINGGI

Tahukah anda jika diabetes mellitus merupakan salah satu jenis penyakit yang memiliki komplikasi terbanyak jika dibandingkan dengan jenis penyakit lainnya? Mungkin sebagian orang sudah mengenal tentang diabetes melitus, namun ada baiknya jika kita dapat menelusuri sebelum anda mengalaminya atau lebih jauh terjangkit.

Diabetes telah menjadi salah satu momok bagi dunia karena merupakan pemicu utama bagi terjadinya penyakit jantung koroner, stroke, kebutaan, gangguan ginjal kronik sampai terjadinya gagal ginjal, dan luka yang sulit sembuh pada kaki sampai menjadi busuk (gangren).

Sementara, pada syaraf bisa menimbulkan neuropati diabetik, sehingga ada bagian yang mati rasa atau tidak dapat merasakan apapun, sekalipun tertusuk jarum, paku ataupun terkena benda panas. Diabetes juga dapat menimbulkan impotensi, sesuatu yang tentunya amat menakutkan bagi sebagian besar pria.

Perkembangan Diabetes di Indonesia

Perkembangan penyakit diabetes di Indonesia kian hari kian meningkat. Para penderita tersebar mulai dari wilayah perkotaan hingga ke pedesaan. Berdasarkan data RS. Cipto Mangunkusumo, di Jakarta tahun ini jumlah penderita diabetes mencapai 700.000 orang. Berarti angka ini merupakan 11% dari populasi orang dewasa di ibu kota.Jumlah ini mayoritas berasal dari populasi penduduk berusia 30 tahun ke atas. Sedangkan, total penderita diabetes mellitus (DM) di Indonesia berdasarkan data WHO pada tahun 2009, ada sekitar 8 juta jiwa, dan diperkirakan jumlahnya akan melebihi 21 juta jiwa pada tahun 2025 mendatang.

Diabetes tidak hanya dijumpai di perkotaan namun juga pedesaan. Prevalensi DM di perkotaan tercatat sebesar 14,7%, sedangkan pedesaan 7,2%. Angka ini tidaklah terlalu mengherankan mengingat sekarang ini gerai makanan cepat saji (fast food) makin mudah dijumpai dimana-mana termasuk di daerah non perkotaan.

Diabetes Mellitus

Secara harfiah, diabetes mellitus berasal dari kata diabetes berarti mengalir, dan mellitus berarti madu. Diabetes mellitus atau penyakit kencing manis atau penyakit gula adalah suatu kondisi gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) secara menahun.

Bagaimana Seseorang disebut Memiliki Diabetes ?

Seseorang disebut diabetisi atau menderita diabetes apabila pada pemeriksaan kadar gula darah puasanya melebihi angka 126 mg/dL atau dua kali berturut-turut pemeriksaan gula darah 2 jam sesudah makan, angka yang didapat melebihi 180 mg/dL.

Ciri atau Gejalanya ?

Sesuai dengan namanya yang berarti mengalir dan manis, maka gejala-gejala diabetes yang ditemukan adalah banyak kencing, yang merupakan usaha tubuh untuk mengeluarkan gula yang berlebih diikuti banyak minum dan banyak makan. Disebut dengan `tiga P` yaitu Poliuri (banyak kencing), Polidipsi (banyak minum) dan Polifagi (banyak makan) disertai dengan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya.

Gejala-gejala lain adalah merupakan komplikasi karena kadar gula darah yang tinggi yang dapat merusak pembuluh darah besar ataupun kecil, misalnya luka yang tidak sembuh, lemas, lesu atau juga mengantuk.

Penyebab Umum Dan Tipe Diabetes?

Penyebab diabetes tergantung jenis atau tipe diabetes yang terjadi. Ada 4 tipe diabetes, yaitu tipe 1, 2 , 3 dan 4.

Tipe 1 disebabkan proses yang disebut otoimun dimana tubuh menghasilkan zat antibodi yang merusak pankreas sehingga pankreas akan rusak sama sekali.
Tipe 2 disebabkan karena adanya kombinasi faktor genetik dan faktor lingkungan yang menyebabkan kerusakan pankreas (tidak total) dan adanya resistensi insulin.
Tipe 3 disebabkan karena faktor-faktor lain yang lebih kompleks, seperti gangguan genetik, pengaruh obat-obatan, rusaknya pankreas karena penyakit lain (batu, operasi) sedang
tipe 4 adalah diabetes yang terjadi pada wanita yang sedang hamil.

90% kasus diabetes digolongkan sebagai tipe 2. Tipe 2 - dahulu disebut sebagai Diabetes Tidak Tergantung Insulin - lebih banyak disebabkan oleh perilaku gaya hidup yang tidak sehat, terutama perubahan pola makan yang cenderung banyak mengkonsumsi lemak dan miskin serat.

Pada orang normal, karbohidrat (berbagai jenis tepung dan gula) yang dimakan akan diubah menjadi glukosa di dalam saluran pencernaan.Glukosa ini kemudian akan dibawa oleh darah ke seluruh tubuh dan masuk kedalam sel untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku energi dan metabolisme sel. Masuknya glukosa ke dalam sel berlangsung dengan bantuan hormon insulin .
Insulin berperan layaknya kunci yang membuka jalan bagi glukosa masuk ke dalam sel.

Pada penderita diabetes gula tidak dapat atau sukar masuk ke dalam sel. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya hormon insulin yang diproduksi kelenjar pankreas, atau karena sel tidak dapat memberikan respon yang baik terhadap insulin walaupun insulinnya sendiri sebenarnya cukup jumlahnya. Akibatnya gula akan menumpuk di dalam darah, tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh dan akhirnya dibuang melalui air seni atau tersisa di dalam darah.

Gangguan metabolisme karbohidrat ini menyebabkan tubuh kekurangan energi. Itu sebabnya penderita diabetes umumnya terlihat lemah, lemas dan tidak bugar.

Di dunia diperkirakan terjadi 3,2 juta kematian per tahun akibat diabetes, atau 1 diantara 20 kematian per tahun adalah akibat DM, atau setiap 10 detik satu orang mati karena diabetes.
Resiko penyakit kardiovaskuler (jantung & pembuluh darah) pada pasien DM adalah 2-8 kali lebih besar dibanding bukan DM. Sedangkan resiko untuk stroke meningkat sekitar 40% dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita diabetes.

Komplikasi penyakit akibat diabetes tidak dapat dianggap remeh, walaupun tetap dapat dikendalikan. Kadar gula darah yang cenderung tinggi dalam jangka panjang, akan merugikan bagi banyak fungsi organ vital tubuh.Secara umum komplikasi ini akan menyebabkan gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskuler) dan pembuluh darah kecil (mikrovaskuler) . Komplikasi mikrovaskuler meliputi gangguan pada mata, ginjal dan syaraf tepi. Sedangkan komplikasi makrovaskuler meliputi penyakit jantung koroner, stroke dan gangguan pada pembuluh darah tepi terutama pada kaki, yang pada akhirnya menyebabkan ulkus kaki sampai munculnya resiko amputasi.

Diperkirakan 10-25% biaya kesehatan nasional dipakai untuk pengobatan DM dan komplikasinya. Angka tersebut belum termasuk biaya tidak langsung, seperti menurunnya kualitas hidup, produktivitas kerja dan kecacatan yang ditimbulkan.

Kuncinya adalah Kontrol Gula Darah

Tak pelak lagi inti permasalahan dari diabetes adalah tingginya kadar gula dalam darah. Maka langkah yang paling praktis untuk menghindari resiko komplikasi akibat diabetes adalah menjaga semaksimal mungkin agar kadar gula selalu berada dalam batas normal dalam darah.

Kadar gula darah dalam tubuh bersifat fluktuatif, akan naik setelah makan dan turun setelah beraktifitas. Menurut protokol PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), target gula darah ideal yang diharapkan adalah maksimum 144 mg/dL sesudah makan dan 100 mg/dL puasa. Bagi diabetisi, terutama yang harus dijaga adalah gula darah sesudah makan. Pada orang normal, setelah 2-3 jam sesudah makan, kadar gula darah akan kembali pada posisi normal, namun pada diabetisi kadarnya tetap tinggi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien yang mempunyai gula darah sesudah makan yang cenderung selalu tinggi, ternyata akan meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner. Data yang menunjukkan bahwa 80% kasus kematian pada diabetes adalah akibat penyakit jantung dan pembuluh darah.

Jalan yang paling mudah adalah selalu pantau kadar gula darah agar selalu berada dalam batasnya. Memiliki sendiri alat monitor gula darah saat ini menjadi metode paling efektif untuk mengetahui level gula darah pasien. "Keuntungan terbesar dari memiliki sendiri alat monitor gula darah adalah mendidik si pasien agar mampu mengatur sendiri pola makan dan melakukan aktivitas yang berpengaruh positif terhadap nilai gula darah.

Umpamanya, si pasien yang mengetahui bahwa akibat makan sepiring nasi sudah bisa membuat loncat gula darahnya, maka selanjutnya dia punya kesadaran untuk mengurangi menjadi setengah piring, " jelas Hery Purwanto, Product Manager PT. Roche Indonesia, mengenai manfaat memiliki alat monitor gula darah sendiri di rumah. Sehingga jika kontrol berada di tangan, maka diharapkan diabetes tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi pasien, karena resiko komplikasi dapat dijauhkan.

Sumber: berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar