Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Obama dan Harapan Dunia

>
oleh: Tyaz Kartika Devi

JABAT ERAT. Presiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama (kanan) menjabat erat rivalnya dalam pemilihan presiden 2008, Senator John McCain, pada acara makan malam di Washington D.C., Selasa (20-1).
(AFP/MANDEL NGAN)


Inilah pertama kalinya dunia memberikan perhatian penuh kepada Amerika, apalagi kalau bukan pelatikan presiden terpilih Barack Husein Obama. Presiden berkulit hitam ini terpilih dan dilantik tanggal 20 Januari 2009 dan disiarkan serentak secara langsung di stasiun televisi dunia.

Inaugurasi presiden ke-44 Amerika ini yang berlokasi di Washinton D.C dipadati oleh jutaan orang. Padahal suhu di sana minus 6 derajat celcius. Antusiasme rakyat AS di National Mall juga diikuti warga dunia. Mereka yakin Obama akan membawa perubahan positif. Hasil jajak pendapat BBC di 17 negara mencerminkan rata-rata dua pertiga seluruh responden yakin Obama mampu memperbaiki hubungan antara AS dan negara-negara dunia.

Sejumlah surat kabar di berbagai belahan dunia menulis kabar pelantikan Obama ini. Termasuk Harian Inggris Financial Times. Harian ini menuliskan "Keberhasilan Obama menjabat presiden adalah saat mencerahkan bagi AS dan dunia. Ini karena ia pria luar biasa yang bakal menjadi presiden hebat."

Koran Prancis Le Monde bahkan menjuluki Obama sebagai pria berbalut patriotisme. Sementara itu, sambutan kepada presiden baru AS terus berdatangan dari pemimpin dunia. Dalam suratnya, PM Inggris Gordon Brown berikrar untuk senantiasa bekerja sama dengan Obama dalam beragam isu, termasuk krisis keuangan global dan proses perdamaian Timur Tengah.

Dari China, Kementerian Pertahanan Negeri Tirai Bambu berharap jalinan militer kedua negara bakal lebih kuat di tangan Obama. Adapun Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menyebut Obama sebagai sosok tulus, terbuka, dan bersahabat.

Namun, tidak sedikit pemimpin dunia yang bersikap realistis. Menlu Prancis Bernard Kouchner mengatakan, "Saya pikir kita seharusnya tidak berharap dia akan memecahkan semua persoalan AS atau kita. Obama tidak punya tongkat sihir."

Demikian pula Putin, "Saya sangat yakin kekecewaan terbesar lahir dari harapan-harapan besar."

Selain mewarisi krisis ekonomi dari George W. Bush, Barack Obama diharapkan menuntaskan konflik di Afghanistan, Irak, dan Timur Tengah mengingat AS memiliki andil besar di kawasan itu.

Terpilihnya Obama telah menegaskan bahwa AS adalah sebuah negara pluralis, semua golongan dengan berbagai pandangan dan kulturnya dihormati eksistensinya. Setidaknya, melihat aneka ras yang datang dalam acara tersebut, dunia bisa optimis bahwa Obama tidak sekadar menjual janji, tetapi akan melahirkan perdamaian dunia dengan semangat para pejuang hak-hak azasi yang kini sudah berada di dalam tanah.

Dalam pidato seusai membaca sumpah pelantikan menjadi presiden AS ke-44 di teras US Capitol, Obama memastikan akan menciptakan hubungan baru bagi dunia Muslim. Amerika akan menempuh cara menciptakan hubungan saling menghormati dan mengedepankan kepentingan bersama.

Dia juga mengingatkan pemimpin dunia yang berupaya menabur konflik atau menyalahkan keterpurukan masyarakatnya kepada Barat, bahwa rakyat akan menilai dari apa yang mereka bangun, bukan yang mereka rusak.

Obama sepertinya akan membagi mimpi MLK untuk bangsa Amerika menjadi mimpi dunia. Bukan hanya rakyat Amerika saja yang berhak hidup bebas, aman, damai dan dilindungi. Melainkan seluruh bangsa di dunia, melalui jalinan kerja sama para pemimpinnya.

Jadi saat ini, marilah kita tunggu janji Obama yang akan melayani dunia untuk kehidupan lebih baik dengan menarik tentara AS di Irak dan menumbuhkan perdamaian bagi rakyat Afghanistan. Dan jangan lupa, bagi rakyat sipil di Palestina yang selalu menjadi korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel.

1 komentar:

  1. dann mengatakan...
     

    Well, hope would be too expensive.

    US is not belong merely to one man. Main power belongs to 'puppeteers'. We will still call it White House instead of Black.

Poskan Komentar