Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Iklan Politik

>
Oleh: Team Pemberitaan Smart FM

Benar kata Alvin Toffler, informasi adalah musuh manusia modern. Ledakan informasi akan menjadi persoalan baru, dan saat, ini soal itu telah terjadi. Kini, di tengah banjir informasi yang tak bisa disensor dan dibatasi, memilih telah menjadi kesulitan baru. Memilih apa yang kita butuhkan karena semua barang telah menjadi seolah-olah kebutuhan. Yang penitng dan yang mendesak kemudian tak jelas lagi, karena semuanya menjadi terasa penting dan telah menjadi mendesak. Kesulitan memilih itu telah menjangkau apa saja sampai kepada memililh pemimpin.

Ya, kini, memilih pemimpin itu tak mudah lagi karena makin banyak orang sanggup menjadi pemimpin dan karenanya makin banyak calon pemimpin yang terpaksa mengiklankan diri. Kita sebut terpaksa karena kepemimpinan itu sekarang bukan lagi persoalan keramat lagi. Ia tak lebih dari produk. Ketika kepemimpinan telah menjadi barang industri itulah yang melahirkan persoalan khas industri, yakni, apa yang diiklankan tidak selalu seperti yang terjadi dalan kenyataan.

Itulah kenapa meskipun bahasa iklan kepemimpinan itu relatif sama tawarannya, semua ingin membawa kesejahteraan bagi negara, tetapi keadaan negara tidak sejahtera juga. Keadaan negara seperti tertahan di kubangan yang itu-itu saja kalau malah tidak boleh dikatakan merosot mutunya. Yang meningkat melulu untuk soal-soal yang rawan bahaya. Kebutuhan BBM makin meninggi, tetapi makin menurun saja kemampuan kita dalam berproduksi. Sementara meningkat kebutuhan kita atas pangan, ketahanan pangan malah makin menunjukkan kerawanan. Bangsa ini seperti cuma dipacu untuk mengonsumsi tetapi makin melemah belaka kemampuannya untuk mandiri. Akhirnya Indonesia cuma akan mengalami siklus ulang penjajahan dalam bentuk ketergantungan.

Darimana semua ini berawal: gagalnya kepemimpinan! Keberhasilan kepemimpinan kita adalah keberhasilan sepotong-sepotong. Dan yang sepotong itu pun harus mengalami pemotongan lagi berupa warisan persoalan yang ditinggalkan oleh pemimpin itu sendiri. Ada pemimpin hebat, tetapi juga meninggalkan persoalan yang juga hebat. Ada pemimpin begitu kuat yang akhirnya meninggalkan kelemahan. Ini merepotkan generasi penerusnya karena mereka bisa dibuat sibuk oleh aneka tunggakan perkara yang begitu ruwetnya. Inilah kenapa merampungkan masa lalu jauh lebih menguras tenaga katimbang mengurus masa depan.

Di dalam cuaca semacam ini, lalu apa perasana kita terhadap iklan-iklan politik itu? Semakin sering kia melihat dan menontonnya, malah semakin keras kita bertanya-tanya: adakah ini bagian dari pemecah persoalan, atau cuma akan menjadi persoalan baru.

0 komentar:

Poskan Komentar