Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Bumi dan Kita = Ibu dan Anak Durhaka

>
oleh: Moh. Sidik Nugraha

Kita kerap menyebut bumi dengan panggilan Ibu Pertiwi atau Mother Earth karena memang bumi adalah ibu manusia. Kita berasal (lahir) dari tanahnya. Kita bertahan hidup dengan mengambil saripati dan segala yang dimilikinya. Namun, apa yang kita berikan sebagai balasan?
Kendaraan yang kita pakai, air cucian yang kita alirkan, sampah yang kita buang, adakah yang tidak mencemari bumi, ibu manusia?

Sekarang, di masa tuanya, sang ibu sedang membutuhkan pertolongan kita, anak-anaknya. Seolah-seolah dia berkata, "Nak, Ibu sudah capek. Izinkan untuk istirahat sebentar. Tolong kurangi mengasapi Ibu dengan kendaraanmu, kurangi menyirami Ibu dengan air kotormu, kurangi melempari Ibu dengan sampah-sampahmu!" Ya, bumi tidak meminta kita untuk berhenti. Dia hanya ingin kita mengurangi pencemaran yang kita lakukan.

Suatu hari, saya mendapati adik saya, Syarif, sedang membuat lubang berbentuk oval di bagian atas dus sepatu. "Tugas sekolah … daur ulang sampah untuk mengatasi global warming," katanya yang masih sekolah kelas VII SMP itu. "Nanti buat kotak tisu di kelas," tambahnya.

Pemanasan global (global warming) bukanlah isu baru. Hebatnya, bukan semakin basi, isu ini malah tambah panas. Tidak hanya di kalangan peneliti lingkungan, isu ini menjadi tren mulai dari anak TK sampai manula. Simak saja: ada artis yang jadi duta lingkungan hidup dan ada banyak pakaian serta aksesoris yang bertemakan pemanasan global. Jangan-jangan sekarang sudah berkembang anggapan "nggak keren kalo nggak ngerti global warming".

Kondisi bumi sekarang ini sama persis dengan sebuah mobil yang diparkir di lapangan terbuka dalam cuaca panas menyengat selama berjam-jam. Bayangkan sinar matahari masuk melalui jendela mobil, tetapi panas yang dipantulkan kembali oleh interior mobil tak bisa menembus balik kaca jendela. Bayangkan juga ternyata kita ada di dalam mobil itu.

Ada yang mengatakan pemanasan global ini fenomena alam biasa. Namun, ada juga yang mengatakan ini disebabkan oleh manusia. Kita, manusia, meningkatkan suhu bumi dengan pembakaran bahan bakar fosil (seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam). Di samping itu, kita memperburuknya dengan menggunduli hutan untuk permukiman dan industri. Menurut para ilmuwan, aktivitas kita ini memompa CO2 lebih banyak ke atmosfer ketimbang ratusan ribu tahun sebelumnya.

Kita yang menyebabkan pemanasan global, kita juga yang tertimpa akibatnya. Untuk merasakannya, kita tak perlu menunggu 50 tahun ke depan di mana 4.000 pulau kecil di Indonesia diperkirakan tenggelam. Perhatikan gejala-gejala berikut ini:
• Sinar mentari pagi yang biasanya menyenangkan kini terasa menyengat seperti siang hari.
• Orang-orang di sekitar, atau kita sendiri, bersin berkepanjangan setiap pagi.
• Mengalami dehidrasi di siang hari.
Kita mungkin menganggapnya biasa, tetapi itulah akibat nyata dari pemanasan global.

Beberapa sumber menegaskan bahwa penyebab utama pemanasan global adalah efek rumah kaca (green house effect). Air (H2O), nitrogen dioksida (N2O), methana (CH4), dan karbon dioksida (CO2) merupakan contoh molekul yang termasuk dalam gas rumah kaca. Seperti selimut di atas bumi, CO2 dan teman-temannya itu sangat berguna untuk menjaga suhu bumi tetap hangat. Namun, lama-kelamaan selimut ini semakin tebal sehingga tak mampu lagi ditembus oleh panas yang dipantulkan permukaan bumi. Oleh karena itu, suhu bumi semakin tinggi.

Untungnya, sekarang semakin banyak orang peduli dengan kondisi bumi yang mulai lelah ini. Di sekitar kita ada komunitas Bike to Work yang bersepeda ke tempat kerja. Ada juga Car Free Day yang rutin digelar seminggu sekali di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Selain itu, ada sekelompok orang yang memilih bepergian dengan menggunakan kendaraan umum.

"Perubahan kecil dalam kebiasaan bertransportasi bisa berdampak sangat besar bagi perubahan iklim. Jika kita menggunakan kendaraan umum sebanyak 5% saja dari seluruh aktivitas transportasi kita, artinya kita mencegah 35 juta ton karbon dioksida lepas ke udara," demikian dikutip dari situs Environmental and Energy Studi Institute.

Tidak hanya itu, kita pun bisa memulai dengan hal-hal kecil, seperti tidak menyisakan makanan dan membuangnya, mengurangi penggunaan plastik dengan membawa kantong kanvas saat berbelanja, menolak kantong plastik hanya untuk mengantongi sebungkus ketoprak, serta menggunakan dua sisi kertas atau bahkan mendaur ulangnya jika mungkin. Masalah pemanasan global adalah masalah gaya hidup. Artinya, perilaku kitalah yang menyebabkannya sekaligus kita jugalah yang bisa memperlambatnya. Sekarang, pilihan ada di tangan kita: memilih gaya hidup yang ramah lingkungan atau yang merusaknya

0 komentar:

Poskan Komentar