Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Tuhan dalam Logika dan Matematika

>
oleh: Djoko Pitono, Jurnalis dan Editor Buku

Algazel (1058-1111 M), sebutan yang terkenal untuk Al Ghazali di kawasan Eropa, suatu kali mengatakan bahwa "sebelum" alam ini ada, atau "sesudah" alam ini lenyap, tidak ada yang namanya waktu.

Sebenarnya ini merupakan sesuatu yang mudah diterima, karena besaran waktu tak pernah, tak sedang, dan tak akan mencapai infinite. Dihitung dari detik (saat) ini, alam semesta kelak usianya tak mungkin mencapai infinite. Dan, sampai detik (saat) ini, alam semesta umurnya tak mungkin infinite.

"Hal ini dapat kita pahami kalau kita meyakini bahwa bilangan infinite adalah bilangan tunggal. Ternyata ada hubungan antara sifat tunggal dari bilangan infinite dan jalan pikiran untuk mengenal sifat Tuhan," demikian Idrus Shahab menjelaskan kaitan bilangan infinite dengan pandangan Al Ghazali itu.

Bilangan infinite ( ) didifinisikan sebagai bilangan yang terbesar secara mutlak sehingga tak ada satu pun bilangan yang lebih besar darinya. Bilangan infinite memang aneh dan ini disebabkan bilangan infinite itu sebenarnya tidak ada. Bilangan infinite hanya ada dalam kerangka berpikir absolut. Karena itu, kata penulis buku ini, bilangan infinite boleh kita sebut sebagai bilangan gaib dan mahaluar biasa, sehingga hanya bisa diterapkan pada absoluteness, yaitu alam ketuhanan.

Buku ini harus diakui sebagai buku yang tidak biasa. Seseorang mungkin akan dipaksa mengernyitkan dahi sebelum bisa mencernanya, khususnya pembaca yang tidak biasa dengan angka-angka dan dalil-dalil matematika dan fisika. Ada sejumlah apendiks yang isinya hitung-hitungan tentang volume bumi, contoh pembagian uang untuk jutaan orang, tentang jari-jari dan volume matahari, tentang jari-jari bola alam yang jaraknya 100 miliar tahun cahaya. Dalam seminar dan bedah buku ini di Sekolah Al Khairiyah Surabaya belum lama ini, dua pembahasnya, dr M. Thohir SpKJ dan Drs Taufiq A.B. mengakui kesulitan mencernanya.

Uniknya, meskipun berkali-kali menyebut kata "filsafat", buku ini bukan buku tentang filsafat. Buku ini juga bukan buku agama, meskipun banyak membela agama. Buku ini mengajak pembacanya untuk membicarakan tentang kebenaran secara lintas agama.

Dengan bingkai logika dan matematika, penulis menunjukkan bukti-bukti kebenaran iman. Poin-poin penting yang mendapat kritik keras antara lain adalah kecenderungan pengembangan sains dan teknologi yang menggunakan wawasan minus Tuhan, atau sekularisme. Umumnya cendekiawan, termasuk di Indonesia, sudah terkena racun-racun sekularisme. Apa yang disebut sebagai filsafat rabun ini telah menimbulkan sains Betha alias "sains rabun", yang membuat manusia tersesat jalannya dan menimbulkan berbagai bencana. Padahal, katanya, sains seharusnya beremanasi dari iman atau agama. Sains Alpha yang tumbuh dari sikap teosentris ini akan menuntun manusia ke jalan yang memberikan kesejahteraan masyarakat. Di sinilah ISOM (The Intuition of a Sober Mind), akal jernih yang bebas dari selimut delusi (persangkaan keliru), menjadi penentu.

Mendukung argumen-argumennya itu, alumnus ITS yang pernah bekerja di industri pesawat IPTN Bandung ini menunjukkan data-data "mengerikan" akibat berkembangnya sains Betha. Di antaranya, ada 50 ribu kepala nuklir di dunia yang memiliki daya penghancur satu juta kali bom yang dijatuhkan di Hiroshima. Banyak negara yang sudah memiliki senjata biokimia, bom-bom virus yang bisa mengubah kota menjadi tumpukan bangkai. Miliaran dolar uang digunakan untuk mengembangkan senjata pemusnah massa itu, di saat jutaan orang hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Idrus kemudian mengutip pernyataan Roger Garaudy, pemikir Prancis masa kini tentang masyarakat Barat yang berfoya-foya di tengah kemiskinan 80 persen penduduk dunia. Ia juga menunjuk peringatan James Grant, direktur pelaksana Unicef, bahwa kebutuhan pokok seluruh penduduk miskin dunia dapat dipenuhi dari biaya pemeliharaan dan pengembangan militer untuk enam minggu saja.

Meskipun tidak menggunakan ayat-ayat kitab suci, buku ini kiranya mampu mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan zat Mahakuasa, dan memposisikan-Nya sebagai pusat dari segala-galanya. Tuhan adalah pusat segala tujuan, harapan, kecintaan, ketaatan, penyandaran, penolong, pemberi tahu, pembimbing, dan pengarah.

Mungkin karena uniknya, acara dialog di sebuah televisi swasta di Jakarta awal April lalu memberikan suvenir buku ini kepada para peserta. Dialog yang menghadirkan sejumlah tokoh politik itu membicarakan keadaan parpol dewasa ini, termasuk masalah korupsi yang melingkupinya. Tidak dijelaskan mengapa buku ini yang dihadiahkan.

Namun, jelas, buku ini merupakan santapan pemikiran yang boleh dibilang baru. Tanpa dogma-dogma, penulis mengirimkan pesan-pesan untuk memperkokoh dasar-dasar keimanan, iman kepada Tuhan dan hari akhir. Para pembaca, termasuk para pejabat negara, yang merenungkan isi buku ini kiranya akan semakin takut menyeleweng. Mereka akan merasa selalu diawasi oleh Yang di Atas, selalu berhati-hati atas semua perbuatan dan ucapannya. Mereka akan bekerja lebih baik tanpa harus diawasi oleh atasan, polisi, maupun hukum negara.

ISOM akan menuntun siapa pun untuk menjauhi korupsi. Bukan karena ajaran agamanya, tetapi juga logikanya yang berjalan baik.

Sumber: Serambi Ilmu Semesta Judul Buku : Beragama dengan Akal Jernih
Penulis : Idrus Shahab
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : 317 Halaman

0 komentar:

Poskan Komentar