Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

HURU-HARA LIGA INGGRIS, ASTRO, AORA TV DST

>Oleh: Hananto L. Wibowo -- nganto@gmail.com

Perkembangan mutakhir hak siar liga premier sepakbola Inggris (English Premiere League, EPL)dan kiprah Astro Malaysia di Indonesia memasuki babak yang semakin buruk. Sekarang ini, bukan saja masyarakat luas yang dilecehkan, tapi keseluruhan sistem penyiaran Indonesia pun dijadikan bulan-bulanan. Celakanya, Komisi Penyiaran Indonesia dan Depkominfo termangu bodoh di pojok sana.

Saat ini, mereka yang sudah membayar 200 ribu rupiah per bulan untuk berlangganan Astro pun sudah tidak bisa lagi menikmati siaran EPL.
Penyebabnya sederhana: Astro berseteru dengan Direct Vision yang selama ini menjadi operator TV yang membawa isi siaran yang dibawa Astro ke Indonesia.
Astro menyatakan menarik diri dari kerjasamanya dengan Direct Vision, dan dengan tenangnya mereka melenggang keluar.

Namun, itu tak berarti EPL akan hilang sama sekali dari layar televisi Indonesia. Astro sudah akan pindah dari Direct Vision ke sebuah operator tv berlangganan baru, AORA TV yang sejak awal Agusus ini sudah beroperasi.
Hanya saja, untuk sementara migrasi ini masih berada pada tahap awal, sehingga segenap tayangan Astro secara lengkap diperkirakan bisa disajikan di AORA baru pada awal 2009 nanti.

Ini tentu menimbulkan banyak masalah. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia sudah bersuara keras tentang hak pelanggan Direct Vision. Direct Vision sendiri pasti sedang kelimpungan kehilangan pelanggan besar-besaran sekaligus mencari pengisi isi siaran alternatif selepas perginya Astro.
Migrasi pelanggan dari Direct ke AORA juga pasti melibatkan birokrasi dan dana yang besar.

Bagi banyak orang, segenap kekacauan ini sudah bisa diantisipasi terjadi karena memang tak ada aturan yang jelas ditetapkan oleh KPI dan Depkominfo mengenai industri televisi berlangganan di Indonesia. Industri televisi berlangganan kita dibiarkan berantakan. Dan contoh terbaik dari kekacauan ini adalah soal Astro TV.

KEKACAUAN DEMI KEKACAUAN
Astro, tentu semua tahu, datang dari Malaysia. Di negaranya sendiri, mereka
adalah pemain tunggal. Dengan posisinya yang monopolistis itu, Astro bisa
mempenetrasi 60 persen rumah tangga di Malaysia.
Dalam rangka memperbesar diri, Astro kemudian merambah ke Indonesia yang tingkat penterasi televisi berbayarnya masih sangat rendah. Untung bagi Astro, kebijakan di Indonesia sangat longgar. Tak ada pembatasan jumlah pemain televisi berbayar di negara ini.

Satu-satunya pembatasan di Indonesia yang menghambat ekspansi Astro ke Indonesia adalah ketetapan UU Penyiaran mengenai modal asing. UU Penyiaran kita tak mengizinkan pemain asing masuk begitu saja. UU menyatakan bahwa saham asing di lembaga penyiaran berlangganan di Indonesia adalah maksimal 20 persen. Karena itulah Astro masuk ke Indonesia pada 2005, melalui Direct Vision yang adalah anak perusahaan grup Lippo.

Masalah berikutnya adalah soal satelit siaran. Astro sejak awal membawa siarannya dari Malaysia melalui satelit Malaysia, Measat-2, yang sebenarnya tak memiliki apa yang disebut sebagai "hak labuh" (landing right) di Indonesia. Saat itu hanya satelit milik Indonesia yang memiliki
hak labuh di Indonesia. Tapi, hambatan itu tak menghentikan langkah Astro.
Perusahaan ini memang memiliki kedekatan dengan para petinggi Malaysia. Hubungan antar pemerintah pun dilakukan. Hasilnya, pemerintah Indonesia mengizinkan siaran Astro dipancarkan ke Indonesia melalui MEASAT-2. Untuk menyenangkan hati para pemain di Indonesia, dalam kesepakatan itu dikatakan bahwa kedua negara menerapkan asas resiprokal (timbal-balik). Implikasinya, satelit Indonesia pun seharusnya memiliki hak labuh d Malaysia.

Sekadar catatan, prinsip resiprokal ini jadi tak berarti karena pada saat yang sama, pemerintah Malaysia tak mencabut ketetapan tentang monopoli Astro dalam industri pay-tv di Malaysia. Akibatnya, walaupun satelit Indonesia dapat memancarkan siaran ke Malaysia, itu tak dapat digunakan
untuk kepentingan bisnis televisi berbayar di luar Astro. Padahal semula diharapkan dengan disepakatinya prinsip tersebut, operator pay-tv Indonesia seperti Indovision bisa juga berbisnis memasuki pasar Malaysia.
Tapi itu semua gagal diwujudkan karena, seperti biasa, pemerintah Indonesia begitu mudah dikadali.

Setelah Astro resmi beroperasi di Indonesia, masalah demi masalah muncul. Astro tahu tak mudah menembus pasar Indonesia. Karena itu, "tujuan menghalalkan cara". Mereka tahu kuncinya adalah memaksa penonton Indonesia untuk berpindah dari operator pay- tv yang ada serta memaksa mereka yang sebelumnya tidak berlangganan pay-tv untuk mulai berlangganan pay-tv.

Kuncinya adalah: monopoli siaran!
Karena itulah sejak 2007 , mereka memegang monopoli hak siar EPL, sehingga pertandingan-pertandingan liga sepakbola terpopuler itu tak bisa lagi disaksikan melalui operator televisi berbayar lain dan juga tak bisa disaksikan oleh penonton televisi free-to-air. Strategi itu itu ternyata lumayan sukses. Dikabarkan, Dircet Vision hanya dalam satu tahun bisa memperoleh 60-80 ribu pelanggan. Masih jauh dari harapan Astro yang mentargetkan bisa memperoleh satu juta pelanggan, tapi bisa disebut sebagai kesuksesan terbesar dibandingkan pay-tv yang lain.

Tapi rupanya, Astro belum cukup puas dengan itu. Kabarnya, Astro sebenarnya berharap bisa membeli 20 persen saham Direct Vision. Tapi kenyataannya sampai tahun ini, rencana itu tak kesampaian. Apapun persoalannya, Astro tahun ini pecah kongsi dengan Direct Vision.

Namun, itu tentu bukan keputusan yang dibuat mendadak. Begitu Astro putus hubungan dengan Direct Vision, hadir operator televisi berbayar baru: PT Karya Megah Adijaya (KMA)-perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki
keluarga Rini Mariani Soemarno. KMA ini yang menjadi mitra baru Astro.
Brand yang digunakan KMA adalah Aora. Nama itu bisa disebut sebagai akronim Astro Nusantara. Aora TV juga akan menggunakan satelit Malaysia, MEASAT-3 yang menggunakan frekuensi KU-Band. Apakah MEASAT-3 sudah memiliki hak
labuh di Indonesia? Tak jelas benar. Tapi siapa peduli?
Meloncatnya Astro dari Direct ke KMA tentu hal serius dipandang dari kebutuhan membangun industri yang sehat. Tapi nampaknya, tak akan ada kebijakan apapun dikeluarkan oleh KPI dan Depkominfo. Akibatnya,
perpindahan Astro berjalan mulus.

Menarik juga untuk mencatat bahwa pihak KMA adalah lembaga penyiaran berlangganan pertama di Indonesia yang memperoleh izin penyiaran tetap dari Depkominfo pada 31 Juli lalu. Mereka memeprolehnya sementara operator
pay-tv lain ? seperti Telkom Vision atau Indovision ? masih menunggu proses
penyelesaian izin dari KPI. Barangkali ini ada kaitannya pula dengan siapa yang berada di belakang KMA.

Rini Soemarno dulu dikenal sebagai Rini Suwandi, mantan menteri perdagangan era Megawati. Inevastasi awal KMA, menurut tabloid Kontan, baru Rp 40 miliar.Tapi mereka juga mengaku bahwa akan ada kucuran dana sampai Rp
450 miliar. Uang siapa? Bisa jadi, keluarga Soemarno. Tapi tolong catat satu hal: Presiden Direktur KMA adalah Ongki Sumarno, yang dulunya adalah Presiden Dikrektur salah satu anak perusahaan Humpuss, grup bisnis milik Tommy Soeharto. Nah!
Keluarga Soemarno menguasai 95 persen saham KMA, sementara lima persennya lagi dimiliki bersama oleh sejumlah orang penting Golkar, termasuk ?
kabarnya -- Solihin Kalla, salah seorang putra Jusuf Kalla. Nah. Lagi!

SKANDAL EPL DI INDONESIA
Cerita hak siar EPL di Indonesia tahun ini juga tak kalah memalukannya.
Pihak yang menguasai hak siar EPL di Asia adalah ESS, yang merupakan
kerjasama dua raksasa kanal olahraga berbayar di dunia: ESPN dan Star
Sports. Sebelum masuknya Astro ke Indonesia, televisi free-to-air di
Indonesia berhubungan dengan ESS untuk memperoleh hak siar EPL di
Indonesia. Sementara pelanggan pay-tv di Indonesia menyaksikan EPL di dua
channel: ESPN dan Star Sports.

Ini semua berubah tahun lalu, ketika Astro All Asia Network (induk Astro)
menyabet hak siar EPL di tiga negara: Malaysia, Indonesia dan Brunei.
Manuver Astro memang mengejutkan. Mereka membayar ESS 60 juta dolar untuk
tiga musim EPL (dari 2007-2008 sampai 2009-2010) untuk memperoleh hak siar
tiga negara sekaligus. Tapi mereka jelas bukan sekadar menghambur-hamburkan
uang. Kalau diperinci menjadi per negara, Astro sebenarnya "hanya" membayar
20 juta dolar AS untuk hak siar EPL di masing-masing negara selama tiga
musim, atau kurang dari 7 juta dolar AS per negara pada satu musim.
Manuver Astro mengacaukan pasar dalam negeri Indonesia. Sebelum Astro,
pertarungan terjadi antar pemain di Indonesia untuk memperoleh hak siar di
Indonesia saja. Misalnya saja, pada 2005-2006, TV7 membayar 4,4 juta dolar
AS untuk satu musim EPL. Para stasiun televisi lokal ini tentu saja tak
tertarik untuk bertarung memperebutkan hak siar tiga negara seperti yang
dilakukan Astro.

Karena itulah, tahun lalu, Astro berjaya dengan hak siar eksklusifnya atas
EPL di Indonesia. Dengan hak itu, Astro berhak meminta ESPN dan Star Sport
untuk tidak menyiarkan satupun pertandingan liga Inggris melalui pay-tv di
luar Astro.

Tapi tahun lalu para operator televisi berbayar lain memprotes karena hak
siar itu tidak pernah ditawarkan pada para pemain di Indonesia. Praktek itu
dianggap tidak adil. Tahun ini, rupanya kecaman itu berusaha diredam dengan
paktek akal-akalan yang sama sekali memalukan.

Sebelum EPL dimulai tahun ini, pihak ESS dan Astro tiba-tiba saja
menawarkan hak siar EPL untuk musim 2008-9 dengan nilai fantastis: 25 juta
dolar AS! Ini angka gila sebenarnya. Lebih gila lagi, mereka hanya
menyediakan waktu empat hari bagi para operator televisi berbayar di
Indonesia untuk menjawab tawaran. Jadi tawaran diajukan pada 8 Agustus, dan
pihak yang tertarik diminta mengajukan kesediaan pada 11 Agustus, yang
kemudian diralat menjadi 12 Agustus pagi. Bahkan dengan tambahan catatan,
bila memang bersedia membeli, pihak yang tertarik sudah harus membayar uang
muka pada 14 Agustus 2008.

Tanggal 8 Agustus adalah hari Jumat, sementara 12 Agustus adalah Selasa. Jadi bisa dibayangkan, para pengambil keputusan di empat televisi berbayar Indonesia harus mengambil keputusan sangat cepat hanya dalam waku empat hari, yang dua hari di antaranya adalah weekend!

Tapi yang tak dibayangkan Astro adalah, manuver itu ternyata justru membuat para operator televisi berbayar Indonesia bersatu. Empat operator pay-tv Indoensia (Indovision, First media, Telkom Vision, dan IM2) memutusan untuk membentuk semacam 'konsorsium' untuk menjawab tawaran ESS-Astro itu. Mereka bersama-sama menjawab bahwa mereka tertarik untuk membeli hak siar tersebut dengan harga yang ditawarkan, dengan rencana bahwa mereka kemudian akan berbagi siaran selama satu tahun. Semangatnya adalah, pokoknya bukan Astro!

Melihat akal-akalan mereka berantakan, ESS kemudian mengumumkan bahwa tawaran itu dibatalkan mengingat "sudah ada tawaran pihak lain yang lebih menarik". Tak ada penjelasan apa-apa mengenai siapa pihak lain itu. Tapi, tentu saja, siapapun tahu yang akan memperoleh hak siar EPL itu adalah Aora TV. Di Wikipedia saja, sudah ada entri Aora TV, yang di dalamnya termuat penjelasan bahwa "Aora TV berhasil memperoleh hak siar Liga Utama Inggris di Indonesia untuk musim 2008-2009 yang semula dimiliki oleh Astro Nusantara".

Apa yang terjadi itu menjelaskan betapa berantakannya sistem penyiaran kita. Semua berlangsung dengan diketahui Depkominfo dan juga KPI. Tak ada satupun yang berbuat apa-apa. Tak ada regulasi. Tak ada intervensi. Kompetisi dipersilakan berlangsung sebabas-bebasnya. Tak ada kepedulian pada kepentingan publik. Tak ada kepedulian pada kepentingan industri nasional yang sehat.

Sekadar catatan, Singapura menolak kehadiran pemain asing dalam televisi berbayar mereka. Sekadar catatan pula, di Inggris sendiri, tak boleh ada monopoli siaran EPL. Di sana yang menyiarkan EPL adalah televisi berbayar Sky-Tv dan televisi publik free-to-air, BBC.

Menurut saya, sudah saatnya negara (dalam hal ini Depkominfo dan KPI) mengintervensi persoalan EPL. Kalau tidak, kita akan menjadi bulan-bulanan bisnis televisi dan olahraga internasional yang dengan seenak-enaknya menghisap kekayaan kita, seraya mengahancurkan industri pertelevisian di dalam negeri.

Kalau perlu negara turut campur dan mewakili stasiun-stasiun televisi dan operator televisi berbayar untuk berhadapan dengan industri asing. Kalau tidak, kita benar-benar akan jadi bulan-bulanan. Harga hak siar Liga Inggris pada 2003, cuma 1,2 juta dolar AS untuk 62 pertandingan. Dua tahun berikutnya sudah melonjak menjadi 4,4 juta dolar AS. Kalau sekarang ESS berani mematok harga 25 juta dolar AS, itu menunjukkan betapa mudahnya kita dianggap dapat diadu-domba oleh konglomerat industri media internasional.

0 komentar:

Poskan Komentar