Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Rayuan Tak Kunjung Padam

>Oleh : Team Pemberitaan Smart FM

Kampanye partai di hari-hari pertama berlangsung sepi. Tak perlu bertanya kenapa, karena bahkan pilkada pun mulai terasa bikin lelah publik. Dan paling serius adalah kelelahan mental. Setiap kali, publik melihat calon-calon kepala daerah itu tertempel di pohon-pohon, si baliho-baliho besar, poster, spanduk koran dan televisi. Tak cuma barang sehari-dua hari, tetapi berhari-hari pemandangan ini menyita perhatian publik. Memenuhi kota dan membuat wajah kota cuma seperti album foto belaka. Apa dampak psikologisnya?

Pada saat tingkat kepercayaan kepada para pejabat publik sedang begini merosot, foto-foto itu, pasti juga ditatap dengan perasaan mendua. Di satu sisi, publik membutuhkan pemimpin, di sisi yang lain, tak mudah lagi untuk mempercayai pemimpin. Lalu bagaimanakah perasaan publik yang sedang tak percaya itu jika harus menatap foto itu selama berhari-hari?

Rampung pemilihan bupati dan walikota, suatu daerah bisa langsung menyusul pemilihan gubernurnya. Lalu poster-poster yang sama akan kembali beredar di mana-mana. Sebuah provinsi kembali akan menjadi album foto raksasa dengan publik lagi-lagi akan menatapnya dengan perasaan mendua. Rampung pemilihan gubernur, kini Indonesia akan kembali diguyur bendera perta-partai. Tidak sedikit jumlahnya, 34 partai. Jangankan untuk menentukan pilihan, bahkan utnuk menghafalinya pasti sudah sebuah persoalan.

Tetapi marilah kita masuk ke soal-soal yang lebih substansial, misalnya, apakah keadaan multi-partai semacam ini akan membuat perbaikan segera. Apakah partai-partai ini berdiri untuk menjadi bagian dari kontribusi politik, atau cuma bagian dari perebutan kekuasaan. Karena besar sekali indikasinya, bahwa kekuasaan itulah target utamanya. Dan apa jadinya jika kekuasaan itu pun datang dari jenisnya yang banal, yakni memaknai kekuasaan melulu sebagai sumber penghasilan.

Maka ketika publik mencoblos gambar wakil-wakilnya, mencoblos gambar calan pemimpinnya, yang berlangsung adalah sebuah spekulasi dengan nada murung. Kepemimpinan telah berganti-ganti, tetapi perubahan-perubahan fundamental tidak juga dicapai bangsa ini. Indonesia menghadapi risiko pembangunan yang salah arah hampir di semua sisi. Mulai dari tata ruang, konervasi sumber alam dan yang paling berbahaya adalah salah urus pendidikan. Era ini adalah era yang paling tidak menarik bagi dunia pendidikan karena ada pendidikan yang mahal tetapi rendah kuialitasnya. Mahal tetapi tidak bermutu, betapa anehnya. Maka, keramaian kampanye ini malah mendatangkan perasaan sepi bagi publik yang kenyang kecewa ini.

0 komentar:

Poskan Komentar