Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Mata Rantai Aib

>Oleh : Team Pemberitaan Smart FM

Kening adalah gambaran kemartabatan. Maka meskipun hanya secoret, jika coretan itu tepat di kening, ia bukan hanya berisiko merusak seluruh wajah, melainkan juak seluruh hidup manusia. Maka marilah kita kenakan metafora itu pada para pejabat publik yang kini tengah menjadi tersangka, terutama tersangka penerima suap dan penilap uang negera. Cukup sekali saja mereka tertangkap tangan, cerita selanjutnya adalah musibah berkepanjangan.

Kita mulai saja dari adegan penangkapan. Bagaimana orang-orang yang semula angker di hadapan kekuasaan ini menjadi pucat-pasi di hadapan kamera wartawan. Cuma dalam hitungan menit ke depan, aibnya telah tersebar menjadi tontonan. Dan di antara para penonton itu, yang di antaranya sambil melempar sumpah serapah, pasti juga terdapat keluarganya sendiri. Tak mudah membayangkan, apa perasaan anak, istri, orang tua dan saudara, demi melihat orang yang mereka cintai menjadi sumber aib seperti ini.

Rampung penangkapan mereka akan segera melakukan tahapan selanjutnya: penahanan. Hari-hari pertama di kamar tahanan yang pasti menyakitkan itu, pasti jauh lebih menyiksa dari hukuman mati. Dari figur yang terhormat dan berkuasa, ia sekedar tergolek sebagai pihak yang disampahkan. Semakin orang ini terganggu mentalnya, semakin akan dia disoraki sebagai ganjaran atas seluruh perilakunya. Dan media akan mengabarkan derita ini dengan gembira.

Dari tahanan itu, KPK bergerak lagi, menuju kantor pribadinya yang megah dan mewah. Adegan selanjutnya adalah pengeledahan. Bagi ruang yang sedang digeledah, ia bukan lagi ruang yang harus dihormati. Ia boleh diacak-acak, boleh ditelisik hingga ceruk terkecil dan laci-laci tersembunyi. Semakin menemukan apa yang hendak disembunyikan, makin akan dikabarkan seperti pertunjukkan. Dan ruang yang digeledah itu, jika ia di bernama gedung dewan, cukup satu penggeledahan, ia terasa sedang mengacak-acak seluruh ruangan.

Dari penggeledahan proses bergulir lagi menjadi persidangan. Sekali persidangan saja, ia sudah menyita berlembar-lembar halaman media massa. Sebelum sidang, wartawan akan meliput kedatangan tersangka yang gelisah wajahnya. Selama sidang, publik akan ikut melihat sendiri seluruh bukti-bukti. Jika bukti itu berupa gambar, ia akan ditayangkan dengan layar besar. Jika bukti itu berupa telepon rahasia, ia akan diperdengarkan rekamannya untuk umum. Pembicaraan dalam telepon itu, bisa saja dianggap tidak relevan dengan dakwaan yang telah disematkan. Tetapi ia pasti akan menjadi bonus bagi publik, tentang betapa ajaib perilaku pejabat bermasalah itu di luaran. Telepon itu bisa berupa soal tawar-menawar harga, sampai soal-soal yang tak elok untuk ukuran kehormatan seorang manusia, pemegang mandat publik pula. Begitulah kekejamana aib, tetapi betapa makin banyak orang tak mengindahkannya.

0 komentar:

Poskan Komentar