Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Income Naik, Expense Turut Naik?

>
oleh: David Ciang

Alkisah Yanto yang baru saja diangkat menjadi Manager. Gajinya meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sebelumnya 4 juta menjadi 10 juta rupiah.

Berhubung jabatannya sekarang sudah bergengsi, Yanto merasa bahwa dirinya layak menikmati gaya hidup yang lebih mewah. Sepeda motor yang biasa dikendarainya untuk ke kantor mulai dijual, digantikan dengan mobil Kijang baru yang dibeli secara kredit.

Selain itu, Yanto juga sering lunch bareng dengan manajer-manajer lainnya di cafe ataupun restoran. Sudah bukan di kantin karyawan biasa. Untuk pakaian, Yanto juga mulai memilih merk-merk yang mahal. Malu donk, masa manager gak pake kemeja bermerk.

Begitulah perubahan gaya hidup yang drastis yang disebabkan oleh kenaikan jabatan. Tanpa sadar, pengeluaran Yanto turut membesar. Bahkan melebihi kenaikan gajinya. Dulunya Yanto dapat hidup pas-pasan dengan gajinya yang 4 juta, sekarang dengan gaji 10 juta pengeluaran Yanto malah 12 juta. Setiap bulan tekor 2 juta.

Namun Yanto tidak khawatir. Dengan pangkatnya yang sekarang, banyak kok bank yang bersedia menawarkan kartu kredit. Dalam waktu singkat Yanto bisa memiliki 5 kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja. Begitulah caranya Yanto membiayai pengeluaran bulanannya yang melebihi gajinya. Tanpa terasa hutangnya terus membengkak.

Hingga akhirnya debt collector mulai mengejar-ngejar Yanto. Tidak sanggup membayar cicilan kartu kredit, kata-kata kasar mulai dilontarkan oleh debt collector. Ancaman menyita harga mulai bermunculan.

Akhirnya Yanto mulai menyesal. Mengapa dia harus mengikuti gaya hidup seperti ini? Gaya hidup yang tidak sangup dibayar dengan tingkat pendapatan yang sekarang. Namun menyesal saja sudah tidak cukup, Yanto sudah terpuruk secara finansial.

============================

Pesan Moral: Melek Finansial

============================

Cerpen diatas bukan cerita real. Saya hanya bermaksud mengingatkan Anda, agar selalu melek finansial. Ada saatnya kita semua mengalami kenaikan pendapatan, bisa berupa bonus tambahan, naik pangkat, menang undian, dan lain-lain. Namun kita harus tetap ingat hukum utama keuangan: "Pengeluaran harus selalu dibawah pendapatan".

Kita memang perlu memberi reward kepada diri kita karena kenaikan pendapatan. Namun tetap ingat, jangan sampai biaya untuk reward tersebut lebih besar dari jumlah kenaikan pendapatan itu sendiri. Karena pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan akan membawa kita ke arah kebangkrutan finansial.

Tawaran kartu kredit memang menarik. Dan seakan-akan kredit adalah solusi untuk keuangan kita. Padahal untuk jangka panjangnya, kita justru harus membayar bunga kredit yang akan memperberat masalah finansial kita. Jangan sampai Anda terjebak masalah hutang kartu kredit dalam jumlah besar hanya untuk membeli barang-barang penggunaan pribadi.

0 komentar:

Poskan Komentar