Selamat Datang...

MEDIA KITA hadir dengan tampilan baru yang lebih fresh  dan memikat. MEDIA KITA tetap berkomitmen untuk memberikan informasi yang benar sesuai dengan fakta-fakta yang ada dan akan selalu memberikan informasi yang segar, informatif, variatif dan inspiratif buat pembaca MEDIA KITA.

MEDIA KITA menerima pemasangan iklan dengan harga kompetitif keterangan lebih lanjut ke idolazay[at]gmail.com

Beli Reksadana di Bank, Mengapa Tidak?

>
oleh: Yeni Simanjuntak*


SH/Don Peter
REKSADANA – Prospektus reksadana yang selama ini hanya dipegang oleh para manajer investasi, kini dengan mudah dapat diperoleh di sejumlah bank.


JAKARTA — One Stop Service, layanan ini dijanjikan industri perbankan saat ini kepada para nasabahnya. Berbagai layanan diberikan pada satu atap. Dengan adanya komitmen ini, konsumen perbankan tentu akan dimanja dengan berbagai layanan yang disediakan oleh industri perbankan.
Konsumen perbankan dapat melakukan segala aktivitas dan transaksi keuangan lewat satu layanan yang didapat di bank. Membeli dan membayar polis asuransi lewat bank misalnya, tentu sudah bukan sesuatu yang baru lagi. Kerja sama kedua institusi keuangan ini – bank dan asuransi – dikenal dengan nama bancassurance.
Bahkan, membayar berbagai tagihan seperti listrik, air dan telepon, telah sejak lama bisa dilakukan lewat bank. Kita juga bisa melihat promosi yang dilakukan oleh pihak bank lewat iklan-iklan yang menawarkan berbagai kemudahan bagi para nasabah.
Kini, kita tentunya juga bisa melihat industri perbankan berbondong-bondong menciptakan berbagai inovasi produk investasi selain produk-produk perbankan konvensional yang selama ini kita kenal seperti deposito atau tabungan.
Salah satu dari produk investasi yang ditawarkan tersebut adalah reksadana. Produk investasi yang satu ini sebenarnya bukanlah barang baru di dunia investasi Indonesia. Reksadana sudah diperkenalkan di negara ini sejak pertengahan 1996 lalu.
Reksadana yang merupakan produk manajer investasi ini memang tidak begitu dikenal di kalangan masyarakat luas. Namun, seiring dengan keikutsertaan industri perbankan dalam memasarkan reksadana kepada para nasabah mereka, produk investasi inipun menjadi tenar dan menunjukkan perkembangan yang signifikan hanya dalam waktu 1,5 tahun belakangan.
Bahkan tidak sedikit para deposan yang mengalihkan dananya ke reksadana yang ditawarkan oleh bank. Penurunan tingkat suku bunga jelas menjadi alasan utama para deposan ini beralih ke reksadana. Reksadana – terutama yang memiliki kebijakan investasi di obligasi pemerintah – memang diyakini mampu memberikan tingkat pengembalian (return) yang lebih tinggi dibandingkan tingkat bunga deposito.

Inovasi Produk, Untungkan Nasabah
Tersedianya berbagai inovasi produk investasi tentu membuat nasabah perbankan mempunyai banyak alternatif investasi. Itulah salah satu keuntungan yang dapat dinikmati oleh nasabah bank yang menginginkan adanya alternatif investasi untuk menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.
Selain itu, dengan keikutsertaan pihak perbankan selaku agen penjual reksadana, membuat masyarakat yang tinggal di kota-kota kecil bahkan di berbagai pelosok tanah air pun dapat mengenal yang namanya reksadana ini. “Nasabah yang di Poso kan tidak berhubungan langsung dengan manajer investasi yang ada di Jakarta. Tapi, dengan dijual lewat bank, si nasabah yakin bahwa uang mereka ada di satu lembaga yang aman, dikenal dan kredibel,” ujar Senior Vice President Bank Danamon, Randy Pangalila.
Bank Danamon yang sempat membuat ‘heboh’ lewat gebrakannya dengan Meespierson Finas Investment Management (MFIM) pada akhir 2001 lalu, saat ini menjadi salah satu bank yang aktif memasarkan produk reksadana kepada para nasabahnya. Lewat layanan yang diberi nama Investment Gallery, Bank Danamon membantu para nasabah melakukan investasi.
Investment Gallery merupakan layanan tambahan dari Bank Danamon untuk nasabahnya, yang menyediakan akses informasi maupun transaksi saham, reksa dana dan instrumen investasi lain, secara online real-time. Lewat layanan inilah, para nasabah Bank Danamon dilayani. Untuk produk reksadana, Bank Danamon melakukan kerja sama eksklusif dengan MFIM dengan mengeluarkan produk reksadana yang diberi nama Prima Reksa, dan produk perbankan bernama Prima Investa.
Prima Investa merupakan produk perbankan yang ditawarkan oleh Bank Danamon kepada para nasabah mereka. Sedangkan Prima Reksa adalah produk reksadana yang dikelola oleh MFIM dan hanya bisa didapat di Bank Danamon. Prima Reksa melakukan alokasi investasinya 100 persen para obligasi pemerintah yang terdapat di Bank Danamon. Hasilnya benar-benar menakjubkan. Sejak beberapa bulan lalu, penjualannya telah dihentikan sementara karena telah berhasil menghimpun dana sesuai dengan kuota yang dianggarkan sebesar Rp 12,5 triliun.
Tidak hanya itu, Bank Danamon juga bertindak selaku agen penjual bagi reksadana-reksa dana yang dikelola oleh Danareksa Investment Manaement (DIM), Bahana TCW Investment Management, Trimegah Securities dan MFIM tentunya. Hingga saat ini portofolio reksadana Bank Danamon telah mencapai sekitar Rp 14,5 triliun. “Tahun ini diharapkan pendapatan dari reksadana memberikan kontribusi sekitar 55 persen dari fee based income kami,” ujar Randy.
Tidak jauh berbeda dengan Bank Danamon, Bank Commonwealth juga menyediakan produk dan layanan terpadu bagi para nasabahnya lewat Comm Invest. “Comm Invest ini dirancang untuk para nasabah yang menginginkan produk yang memberikan hasil maksimal dengan arahan dari para ahli di bidang investasi dan keuangan,” ujar Consumer Banking Director Bank Commonwealth, Preditha Dewi.
Bank Commonwealth saat ini memasarkan 20 produk reksadana dari lima manajer investasi. Dua dari 20 produk reksadana tersebut merupakan hasil kerja sama ekslusif Bank Commonwealth dengan Schroder Investment Management Indonesia (SIMI). Kedua reksadana tersebut dikenal dengan nama Commonwealth Dana Premium dan Commonwealth Investa Premium. “Reksadana Investa Premium ini ditargetkan memperoleh dana Rp 1 triliun pada 2004,” ujar Ditha.

Nasabah
Hakikat orang investasi tentu untuk mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Jadi, tidak perlu heran bila ada orang-orang yang selalu melirik bank-bank yang menawarkan bunga atau produk dengan return lebih tinggi. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu alasan bagi industri perbankan saat ini berlomba-lomba menawarkan reksadana lewat bank mereka.
Bank-bank terkenal seperti Standard Chartered, HSBC, Commonwealth Bank, Cibank, Danamon, ABN Amro Bank, Bank Internasional Indonesia dan Bank Niaga adalah beberapa dari sekian banyak bank yang menawarkan berbagai produk reksadana dari beberapa manajer investasi tertentu kepada para nasabahnya.
Bahkan, tidak sedikit pula yang menjalin kerja sama eksklusif dengan manajer investasi untuk membentuk suatu reksadana yang hanya dapat dijual pada bank yang bersangkutan. Bank Central Asia (BCA) menjalin kerja sama dengan empat manajer investasi sekaligus untuk mengelola reksadana yang diberi nama dengan embel-embel Gebyar Indonesia.
Bank Permata juga tidak mau ketinggalan. Bank hasil kolaborasi lima bank ini menggaet Danareksa Investment Management dalam mengelola reksadana yang diberi nama Permata Inves. “Kami berharap reksadana ini akan memberikan pendapatan yang cukup besar bagi fee based income Permata, “ ujar Direktur Utama Bank Permata, Agus Martowardojo.
Bank Internasional Indonesia juga bekerja sama dengan dua manajer investasi sekaligus untuk mengelola dua reksadana mereka yaitu Pundi Reksa Dolar dan Pundi Reksa Rupiah.
Jadi dengan ditawarkan reksadana lewat perbankan tidak hanya memberikan keuntungan kepada pihak bank itu sendiri lewat fee based income dan dapat menahan nasabah yang menginginkan bunga lebih tinggi untuk pergi dari bank. “Dengan kata lain, semakin banyak nasabah berhubungan dengan bank – tidak hanya satu produk – maka semakin tinggi loyalitasnya,” ujar Randy.

*Kontributor Sinarharapan.co.id

0 komentar:

Poskan Komentar